Stop Press!!
Rp 200,- akan disumbangkan kepada WWF Indonesia dari tiap 1 novel Stila-Aria.1:Sahabat Laut yang kamu beli, untuk pelestarian alam
dan spesies flora-fauna Indonesia. Terima kasih atas partisipasi kalian!

 

 

Paperback synopsis
Ini adalah cerita tentang Aria Syadiran,
Tentang masa remaja yang seringkali membingungkan, nggak menentu, nggak sreg , namun ‘gila' fun -nya, serta penuh haru sedihnya. Rasa pertama akan cinta pertama, rasa pertama akan benci dan kangen yang -- anehnya -- datang bersamaan dan terasa saling bertubrukan. Serta rasa penasaran dalam menentukan: “Apakah dia sahabat saya, atau lebih dari itu?”

Dan teman-teman di SMP Pelita Bangsa.
Aria yang punya sudut pandang unik dalam melihat sesuatu, namun juga ‘pedas' dan sangat peduli lingkungan adalah magnet bagi sekolah barunya. Bagi Jamie , si peranakan Indonesia-Australia yang merasa punya cap ganteng di jidatnya sehingga senang melecehkan sesuatu. Musa , yang sering krisis identitas karena ‘keberatan nama' dan bosan jadi bayang-bayang Jamie sejak TK. Ayumi , si kapten cheerleader yang menganggap jadi cantik dan populer adalah segala-galanya. Kui , yang risih dengan tubuh gemuknya dan berharap bisa skinny kayak Ayumi. Didun , yang berusaha keras melebur dengan Jakarta walau sering homesick ama Kebumen. Serta Izar , si misterius yang benci ketidakadilan -- namun sangat mengerti akan masa lalu Aria.

 

Excerpt
“ Akhirnya kehidupan baru dimulai...”

Seorang gadis berkata pada langit yang membentang luas di depan. Ia berdiri tegak, namun santai. Postur tubuhnya tidak tinggi. Seperti kebanyakan perempuan Indonesia sebayanya, ia cukup mungil tapi sehat. Rambut hitam ikalnya diikat kuda, dimana kalau digerai, panjangnya menjuntai sampai bahu. Gestur tubuhnya menyiratkan ia cewek yang tidak ‘kecewek-cewekan'. Apalagi kalau melihat tekstur rambut tousled -nya yang dibiarkan alami. Cuek dan santai.

Namanya Aria Falisha Syadiran. Beberapa orang yang mendengar nama belakangnya pasti akan mengkaitkan dengan Lara Syadiran, istri dari salah satu anggota konglomerat keluarga Hanafiah. Tapi Aria tidak ambil pusing akan itu. Ia adalah angin: tidak terikat dan bebas bertiup ke mana saja. Ia juga ranting-ranting pepohonan yang dapat menyembunyikan diri dalam pekatnya hutan. Nama bukan perkara besar bagi Aria. Ia menghargai orang, benda, hal -- sesuatu -- bukan dari namanya, melainkan esensi serta tujuan dari keberadaannya.

Oleh karena itu, Aria sangat menghargai keberadaan serta kesempatannya untuk dapat kembali ke tanah air. Ia yakin hal itu pasti memiliki tujuan.

Setelah cukup lama berdiam, Aria melepaskan cardigan hijau yang dikenakannya, merasa cuaca terlalu panas untuk dilewatkan dengan berbaju tebal begini. Dibentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seakan-akan tengah melakukan gerakan menghirup udara segar, walau yang ada di sekeliling adalah sebaliknya.

Aria sedang menikmati sensasi aneh dengan memijakkan kakinya di trotoar conblock dan membaui aroma wangi bubur ayam dari tukang jualan di sampingnya.

“Mau ditunggu, Kak?” Orang yang tadi duduk di belakang kemudi ikut turun menghampirinya. Ia bingung dengan ritual berdiam diri yang sejak tadi dilakukan majikan kecilnya.

“Nggak usah, Pak Bahdi. Makasih udah diantar. Saya pulang naik bus aja. Ada bagusnya juga di sini belum ada subway .”

“Sabuwei?”

“Kereta api bawah tanah.”

“Ooh. Tapi sebentar lagi akan ada kereta api di udara, lho. Monorel namanya, kalau tidak salah. Bakalan melintas di depan Plaza Senayan. Eh, tapi denger-denger Kakak gak suka ke mall , ya? Sayang.. padahal itu satu-satunya hiburan di Jakarta. Ditambah ibukota ini kan biangnya macet. Yah, moga-moga aja dengan adanya kereta api di darat dan di udara, jalanan jadi lebih lancar,” si bapak berhenti, menarik nafas untuk berkata lebih semangat lagi, ” Indonesia nggak pernah kalah canggih, kok.”

“Iya, nggak kalah canggih. Tapi alamnya juga jadi nggak kalah hancur. Sayang.” si gadis bersua pelan. Ia menebarkan pandangannya ke sebuah bangunan besar, sebuah sekolah, yang mulai hidup karena aktivitas paginya. Ia tersenyum lagi.

”Tapi,” Aria memandangi beberapa siswa yang melintas melewati gerbang sekolah. Mereka jalan bergerombol, lalu terhenti dan barisan menjadi merapat seperti antrian permainan ular naga. Satu-satunya permainan rakyat Indonesia yang ia kenal -- dan hafal. “Seragamnya aneh. Biru. Tapi kotak-kotak. Dan birunya terlalu gelap. Bukankah seragam middle school -- SMP -- seharusnya biru tua, ya? Bukannya gelap.”

“Ini dikarenakan Kakak masuk sekolah swasta. Seragamnya berbeda dengan sekolah negeri.”

“Seragam,” Aria mencari kosa kata Indonesia yang tepat untuk mengungkapkan pendapatnya, yang sudah dipastikan sarkastis, seperti senyumnya kini,”bukannya dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan ya?” dilihatnya selembaran kertas yang merupakan jadual di tangannya.

“Ah, si Kakak.. itu...” Pak Bahdi tertawa lemah, setuju. Daripada berkutat di topik sama yang semakin membuatnya terpojok, cepat-cepat ia menggantinya. ”Sudah tahu rute pulang, kan ?”

“Dari halte ini tinggal naik bus Kopaja nomor 619 satu kali, turun di dekat pangkalan ojek, terus jalan kaki, kan?” Aria kroscek lagi. Kalaupun salah, ia menganggap itu sebagai latihan ‘paksaan' demi melancarkan kembali bahasa Indonesianya yang masih terbata. Makin banyak ketemu orang lokal makin bagus. Malu-maluin banget nantinya kalau mengaku warga negara Indonesia tapi bisanya cuma bahasa Inggris. Aria nggak pengen jadi generasi gado-gado, seperti yang selalu Adam katakan.

“Sip!” Pak Bahdi tersenyum lebar seraya melanjutkan, sungguh-sungguh. “Tapi nggak apa-apa ya, Kakak naik bus sendiri? Kalau Dik Alissja yang begitu, Bapak-Ibu bisa copot jantungnya.“

Aria tertawa lepas, walau ia tidak bermaksud menertawakan objek dalam perbincangan itu. “Tapi Alissja pengen banget lho nyobain. Ia bilang sendiri ke saya. Apakah segitu membahayakannya, naik bus sendirian di Jakarta ?”

Pak Bahdi mengangguk dengan ekspresi tidak suka. “Copet, preman, copet, preman... pengamen yang bergaya preman biar ujung-ujungnya dikasih duit... isinya cuma itu aja.”

“Yeah, semoga cuma itu aja.” Aria nyengir, yang nampak aneh di mata Pak Bahdi karena tidak tersirat takut sedikitpun. “Tapi, di sana pun juga begitu, kok. Bukan hanya di Indonesia . Beda negara, beda gaya aja. Untungnya di Indonesia senjata api nggak dijual bebas.”

Pak Bahdi tertawa, berbarengan dengan gelengan kepala beberapa kali. Ia takjub banget ama majikan kecilnya yang unik ini. “Selamat datang di Jakarta .” Ia akhirnya melepas kepergiannya untuk bergabung dengan kerumunan kotak-kotak putih-biru itu.

“Makasih, Pak. Benar-benar senang sudah kembali.” ***

 

Hari Senin yang luar biasa mendung walau pagi baru dimulai. Lapangan basket yang permukaannya masih agak becek sisa hujan semalam, kini nampak kosong, lengang, hanya dilalui beberapa kabel mikrofon.

Jamie memperhatikan 2 guru dibantu beberapa siswa mempersiapkan upacara bendera yang rutin dilakukan tiap Senin. Ia tidak tergerak untuk melakukan hal yang sama seperti siswa-siswa itu. Dan dari posisi dirinya kini, duduk pada lekukan luar jendela kelas bersama beberapa pot bunga, sambil makan ketupat sayur, ia sudah memastikan dirinya nggak akan join di barisan para peserta upacara itu. Sekarang maupun nanti-nantinya.

“Cepet banget lu makan, Le! Laper apa kalap?” Musa ikut duduk di tempat persembunyian ini, juga menyantap sepiring besar ketupat sayur yang dibelinya di kantin.

“Ini ronde pertama. Abis itu gue mau rujak.”

“Rujak? Pagi-pagi begini?”

“Biar sakit perut. Stres gue di rumah. Kakak gue yang cewek baru balik dari Darwin, dan kerjaannya monopoli kamar mandi seharian. Mood nongkrong gue jadi ilang…” Jess, kakak Jamie, kini meneruskan studinya sebagai mahasiswi di universitas negeri di Indonesia di mana sebelumnya ia tercatat sebagai siswa sekolah menengah di Darwin, Dripstone High School. Satu keputusan aneh menurut Jamie. Seandainya bisa, ia ingin keluar dari SMP Pelita Bangsa, dari Indonesia sekalian. Pindah ke Darwin, tukeran agar Jess di Jakarta saja.

“Hahaha… bodoh! Dasar bule jorok!”

Saat kedua siswa PB ini cekikikan, tiba-tiba tercium bau wangi yang tidak diharapkan ada di tempat macam ini. Sesaat pikiran mereka melayang pada sebongkah imajinasi fisis menakutkan.

Hantu, setan, dedemit .. hantu lagi.

Tapi udah pagi begini, nggak mungkin ada hantu, kan?

Lalu, wangi selembut ini…

...Parfum -- PARFUM CEWEK? Kok bisa?!!

“Hai..” kedua alis Aria terangkat ”...Adam?”

Jamie berhenti ketawa tatkala melihat sosok di depan yang memakai overall - jeans model capri dan atasan kaos biru muda. Apa ia nggak salah lihat? Sejak kapan sekolah super-ketat, super-nyebelin ini memperbolehkan muridnya pake baju bebas? Dan seandainya benar boleh, kok bisa-bisanya ia dengan bodohnya melewatkan berita fantastis ini?

“Elo... anak mana?” Musa bertanya terbata, lalu senyumnya mengembang. Senyum malu-malu khas dirinya tatkala disapa cewek, walau ia agak risih juga: dari mana asal cewek ini? Mungkinkah ini mata-mata kiriman SIS/Satria Indonesia School yang bulan lalu kalah tanding basket dengan PB?

“Hmm? Kukira Adam...” Aria mengerutkan hidung. Manyun Nampak berpikir seraya memandangi laki-laki bule dengan seksama, dan Jamie memandanginya balik, terganggu dengan mata penasaran yang serasa menelanjanginya itu

Karena terlalu terpaku pada baju bebas yang dikenakan cewek ini, tadi Jamie nggak terlalu meratiin wajahnya. Baru sekarang ia mendapat pandangan jelas. Dan baginya, gadis ini mirip Sherina Munaf. Tipe favoritnya. Bedanya Sherina yang ini tidak bermata sayu, melainkan agak kecil. Bukan sipit, hanya kecil kelopak matanya. Kalau nyengir seperti sekarang, matanya jadi ilang membentuk garis lurus. Cantik, dalam konotasi yang tidak biasa.

“HEHHH?!!! Kok elo bisa nyampe ke sini, sih?!! Ini kan lantai 2! Masuk dari mana, coba?!” Musa mendadak berdiri sambil berteriak histeris, membuat Pak Juwo, guru olahraga merangkap satgas sekolah yang sedang berkeliling mengecek tiap kelas selama upacara berlangsung, menghentikan langkahnya dan membuka pintu kelas 8-D yang tadinya tertutup rapi dan rapat.

“Aduh! Bego lu,” desis Jamie pada sobatnya. Refleks, mereka berdua membungkam mulut cewek ini sebelum ikutan berteriak.

“Sori, Le!” Musa tertular kepanikan itu.

Tap, tap, tap.

Baik Jamie maupun Musa mendengar langkah kaki Pak Juwo semakin dekat ke arah jendela. Impuls Musa menarik kain terpal yang menyelubungi bangku dan meja kelas yang sudah tak terpakai untuk menutupi mereka bertiga.

Pak Juwo berdiri tepat di sisi jendela kelas. Ia melongok ke luar, lalu ke bawah, ke sebuah legokan yang membentuk ruang, tempat properti bekas milik sekolah. Sebelah matanya menyipit. Sesuatu mencurigakan membuatnya waspada; kenapa posisi kain terpal oranye nampak tidak sesuai dengan biasanya --

“Pak Juwo! Ada siswa yang pingsan. Masuk angin, katanya. Tadi pagi belum sarapan.” Terdengar suara Bu Puput memecah seluruh rasa penasaran si guru berkepala plontos yang tadinya sudah terkumpul bulat. Tangannya tidak jadi terjulur.

“Ada-ada saja.” Pak Juwo lantas keluar dari ruangan kelas yang sunyi menuju lapangan upacara, siap melaksanakan tugas barunya.

“Fiuhhhh!!!!” Jamie dan Musa meghela napas panjang yang super-lega, berbarengan, sambil menyibak kain terpal yang menutupi mereka, lalu disusul dengan teriakan “ADDAWWW!!” dari mulut Jamie ketika cewek ini menggigit telapak tangan Jamie yang masih membungkam mulutnya.

Jamie melepaskan bekapannya dengan muka bersungut-sungut. Namun ketika pandangannya beradu dengan si pemilik gigi tajam dalam jarak sedekat ini, ekspresinya berubah: dari jutek ke bengong lalu diakhiri dengan seulas senyum playboy yang atraktif. ” Well, well… ” ia menggenggam tangan Aria dengan agresif,”gak nyangka di SMP Pelita Bangsa ada barang menarik juga. Jauh lebih cute daripada Ayumi!”

Tebal: 333 halaman
Ukuran: 13 x 20 cm
ISBN: 979-3750-24-3
Harga: Rp 39,500
Penerbit: Terrant Books