

Paperback synopsis
B i a n c a
Arranged marriage.
Bianca punya cita-cita, sahabat sekaligus saingan sempurna di dunia jurnalistik yang dicintainya. Tapi ia tidak pernah menyangka keluarganya, para Hanafiah yang (katanya) moderen dan ‘bermoral', akan melakukan ini: menjodohkan dirinya pada orang tak dikenal, pada pewaris dan pemilik perusahaan MataCakra bernama Sultan Syahrizki. Selain itu, Bi juga sudah muak dibanding-bandingkan dengan sepupunya yang lembut dan cantik, Inez. Dan ia berharap kakaknya, Reno, berhenti memperlakukannya seperti anak kecil.
A o z o r a
Aozora Syahrizki—atau Sora—gerah menjadi bayang-bayang Sultan, kakaknya yang sempurna. Namun hidupnya berubah ketika ia—yang biasanya individualis dan tidak peduli sekitar—menolong seorang gadis dan stuck bersamanya semalaman. Sora menganggap ini kebetulan saja... atau tidak. Bukankah sebenarnya di dalam hidup tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan?
Tapi, Sora hanya dapat tertawa pahit pada dirinya. Dalam mimpinya yang paling liar sekalipun, tidak pernah terbayangkan bahwa ia akan jatuh hati pada tunangan kakaknya sendiri!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
MP3 Playlist behind this book
With Me (Sum 41)
4 in The Morning (Gwen Stefani)
Desert Rose (Sting ft. Cheb Mami)
Stripper (Soho Dolls)
Won't Go Home Without You (Maroon 5)
What Goes Around... Comes Around (Justin Timberlake)
Big Girls Don't Cry (Fergie)
Bleed It Out (Linkin Park)
Bleeding Love (Leona Lewis)
All I Want Is You (U2)
Lady Marmalade (All Saints)
Sway (Bic Runga)
She Will Be Loved (Maroon 5)
Ghost of You (My Chemical Romance)
Let Go (Frou Frou)
CrushCrushCrush (Paramore)
This Year's Love (David Gray)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Latté a la Marks & Spencer decaf
Notice gimana yummy -nya Latté (kopi susu) di Portrait Coffee Shop yang—menurut Sora dan Mauro—rasanya kayak Marks & Spencer decaf coffee?
Nah, ini dia resep versi murah-meriahnya:
Bahan: Kopi Nescafé Classic, susu pasteurisasi plain kemasan tetrapak merk Diamond/Indomilk (minimal kemasan 500 ml), 1 ½ sendok teh gula pasir/ 1 sachet Equal, cangkir (karena takaran kopi ini untuk cangkir; perbanyak komposisi menjadi 2X lipat apabila meracik dalam mug ), Cara Membuat: Masukkan 2 sendok teh kopi Nescafé Classic dan gula ke dalam cangkir, seduh dengan 50 ml air panas. Tuangkan 200 ml susu (yang sebelumnya telah dipanaskan dalam microwave atau dididihkan dengan api kecil) dan aduk sampai rata. TA-DA! Latté spesialmu siap dinikmati..
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excerpt
JAKARTA
“BIANCA."
Suara nenek begitu dalam, namun tidak biasanya juga terdengar lelah, karena di pertengahan usia 70-an, ia nampak begitu enteng memikul beratnya, naik-turunnya ritme hidup. Seakan-akan hidup ini memang tidak berat baginya.
Tapi saat ini berbeda. Auranya berbeda. Bahkan Reno ada di ruangan yang sama, berdiri di sisi nenek. Posisi berdiri abangnya yang berseberangan dengan Bianca seperti menjelaskan dimana Reno berpihak.
Nenek Hanafiah tidak pernah memanggil Bianca—setidaknya tidak seorang diri begini. Memanggil ke rumah beliau dengan panggilan resmi via telpon—didampingi Reno sang kakak pula—berarti—ada hal penting untuk disampaikan. Panggilan seperti ini pernah tertuju pada Diaz saat dulu ia tidak naik kelas di kelas akselarasi, Inez saat ia memutuskan ‘kawin kilat' dengan Niki (dengan budget —dan tema pernikahan—yang terlalu simpel untuk dipublikasikan di Indonesia Tatler), maupun Austin karena belum juga tertarik untuk mencari calon istri lantaran terlalu obsesif (di mata nenek) terhadap bisnis yang digelutinya.
Panggilan seperti ini seharusnya bukan untuk Bianca.
Tapi tetap saja kini Bianca berdiri di titik sakral yang bikin dirinya berusaha mengerem keringat dingin yang kian deras mengucur.
Nenek melipat tangannya di atas meja kerja (bahkan di usia senja begini, nenek masih memiliki ruang kerja sendiri lengkap dengan perpustakaan rak 3 tingkatnya), lalu menghembuskan napas pelan. “Selamat atas kelulusan kamu. Reno menceritakan kalau sidangnya memuaskan hingga mendapat nilai A-.”
“Terima kasih, Nek.” Bianca berdiri frigid, sefrigid suaranya. Peluh kecil di kulitnya yang bening dan mulus mulai bermunculan. Rambut bergelombang yang biasanya diikat kuda untuk alasan praktis kini tergerai karena ikat rambutnya putus. Postur tegap Bianca (karena ia terbiasa melakukan outdoor exercise , terutama yang berkaitan dengan beladiri) bahkan tidak sepercaya diri biasanya. Ketimbang Joan d'Arc yang tangguh, pada detik ini Bi malah terlihat seperti Marie Antoinette yang baru mendengar kabar bahwa Revolusi Perancis akhirnya terjadi.
Sama seperti berita yang Bianca antisipasi dari nenek; sepertinya itu nggak lebih baik dari Revolusi Perancis.
“Nenek dengar setelah kuliah selesai kamu masih ada kegiatan di kampus? Lantas, kamu juga masih tertarik dengan beasiswa pelatihan jurmalistik se-dunia di New York?”
Bianca tertawa grogi; nenek tidak pernah seantusias ini mengobrol dengannya. Ia bukan seperti Inez yang terdapat kata ‘elegan' dan ‘ fashion' di dalam DNA-nya, maupun Raissa yang mengerti tiap jengkal dunia akibat minatnya yang sangat besar terhadap art history . Bianca hanyalah cewek biasa—yang tergila-gila dengan jurnalistik (dimana nenek nggak suka akan kenyataan ini) dan Ninjitsu (yang ini lebih-lebih nggak nenek sukai!).
“Tentu! Saya bersaing dengan Kama untuk bisa terpilih mengikuti itu. Seleksinya terkenal sulit sekali—hanya 5 orang dari Asia-Pasifik. Tapi, please , Nek.. tidak usah dibantu. Saya akan coba ikut tanpa Nenek harus menghubungi siapa-siapa, tanpa harus membawa nama Hanafiah—“
“Mungkin kamu harus mempertimbangkan rencana itu lagi, Bianca.”
Bianca bungkam mendadak. Nenek tidak menyetujuinya? Mengapa? Bukankah ia seharusnya senang melihat cucunya berkarya?
“Kamu tahu MataCakra, Bianca?” Nenek berkata lagi sebelum Bianca sempat bertanya.
Bianca mengangguk. “Tapi Mas Reno lebih tahu.” Cepat-cepat ia melontarkan. Ia menengok penuh arti ke Reno, mencari jawaban, apa maksud dari semua ini. Toh Renolah yang pertama kali memperkenalkan nama itu kepadanya.
“Dan bukankah MataCakra adalah pesaing kita?” Bianca kembali pada nenek.
Nenek sempat menarik napas dan menahannya melihat gestur tegas cucunya yang boyish ini, namun usia mengajarkannya untuk tetap bisa dalam postur tenang. “MataCakra memiliki visi dan konsep yang kuat, sedangkan Hanafiah Group mempunyai resource yang handal. Bersama-sama, kita dapat menjadi kesatuan yang kokoh, dan persaingan ini dapat diakhiri.”
Perasaan Bi mulai meregang tidak enak. Sejak tadi nenek mencoba bersikap sopan—dan bertele-tele. Itu bukanlah Helena Hanafiah yang Bianca kenal. Tapi ia tahu ada sesuatu yang besar menantinya dibalik semua ini.
Segera. Bianca harus tahu segera. “Caranya?”
“Pernikahanmu dengannya adalah jalan yang terbaik.”
“MENIKAH? S-Saya—?” Dengan siapa?! Mata Bi serasa akan coplok. Dan dengan sangat tidak lady-like -nya, mulutnya juga menganga lama. Cepat-cepat ia memejamkan mata sambil beberapa kali menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan sisa-sisa kata yang mengiris telinga.
Suara nenek mengalun lebih halus. “Bianca Safinah, dengarkan Nenek dulu, Nak.. ini sama sekali bukan ide yang jelek apalagi jahat, bukan? Kecuali Nenek menjodohkan kamu dengan laki-laki tidak jelas— gold-digger, tipikal orang yang akan menyusahkan hidup kamu setelah pernikahan,” beliau berhenti sejenak, menarik napas,”Sultan Syahrizki, CEO MataCakra, jauh dari kriteria itu. Ia baik, sopan, bertanggung jawab—Reno bahkan telah menjajaki relationship ini sebelumnya dan nampak terkesan akan kualifikasi dirinya. Ia berasal dari latar keluarga terpilih.. dan tentunya tampan. Ia orang yang saya bayangkan akan bersanding dengan Bianca-ku.”
Bianca menelan ludah. Bianca-ku? Sejak kapan Nenek ngomong begitu? Kalau ‘ Inez-ku' sih masih masuk akal!
“Reno mengatakan bahwa kamu bersedia untuk mengikuti meeting dan segala pertemuan penting dengan MataCakra selama sebulan ini. Nenek senang sekali kamu mau mencobanya, Bianca..”
Bianca melempar tatapan setajam pisau ke arah abangnya, yang tidak digubris sama sekali. Berani-beraninya, Mas Reno!
“Tapi saya kan jurnalis, Nek! Nggak ada potongan businesswoman sama sekali—“
“Jangan merendah begitu, Bianca. Sejak tahun lalu katanya kamu sangat inovatif menyumbangkan ide-ide baru demi memperluas pasar kartu prabayar Transtel ke segmen anak muda. Acara gebyar kreativitas di kampus dan sekolah-sekolah yang Transtel sponsori sukses besar hingga mendongkrak revenue sampai 25%. Semua itu bukan prestasi main-main dan sepertinya memang ada bakat bisnis di darahmu, seperti halnya mendiang kakekmu.” Nenek menoleh ke lukisan Kakek Mochtar Hanafiah berukuran raksasa di sebelah kanannya, dan Bi serasa ingin ikutan teriak, minta bantuan kakek.
“Beginner's luck ,” Bianca menggumam ogah-ogahan. Ia nggak tertarik bisnis—dan siapa bilang semua Hanafiah harus berkecimpung di dunia bisnis?
“Rapat pertamanya Senin minggu depan, Bi. Pagi. Kita pergi bersama-sama jam 10.” Reno mengambil alih pembicaraan.
“Wear something classy, Dear. Polished signature style could uplift your business savoir-faire.” Nenek bangkit, menandakan pembicaraan satu arah ini telah selesai.
“Bianca sudah cantik, Nek,” Reno mengomentari, ringan,”Apa kata Mauro; kamu kloningannya Eva Green? Film Kingdom of Heaven ?”
Bianca kian cemberut. Mauro. Reno saking serunya bersekongkol dengan nenek sampai tidak engeh sama sekali apa ya kalau ia dan Mauro sudah putus? Menyebalkan sekali Reno ngomongin mantannya sekasual itu!
“Who is this Eva Green, Moreno? Menurut saya, Bianca lebih mirip Eva Gabor..”
Semua kata, pujian yang saling terlontar antara nenek dan Reno sirna, tertelan kepahitan yang mengambil ruang di dadanya. Nenek, Reno, dan mungkin juga orangtuanya.. seluruh Hanafiah.. mereka telah bersekongkol untuk mengatur ide konyol ini, perjodohan ini. Tapi mengapa tadi lidahnya kelu—semua kata bagai tercekat? Pengecut tidak pernah mampir dalam kamus hidupnya, tapi beginilah kondisi diri yang Bi rasakan saat ini.
“Jadi... ini.. akhir kebebasanku?”
Tentu saja pertanyaan Bianca tidak terjawab karena kini ia tinggal seorang diri di dalam ruangan.***
MINAMI, OSAKA, JEPANG
Kaminari Kei memandangi sebuah bingkai foto snap-shot di tangannya, cukup lama. Objek di foto itu adalah Kianti Srihadi. Ia memanggilnya dengan nickname khusus: Aki.
Lalu ditangkupnya bingkai itu, memendam segala rasa dan kenangan yang pernah ada.
Dan semua itu sudah cukup.
Kei memandang ke luar balkon kondominium, melihat megahnya sinar matahari sore yang mencabik-cabik langit. Di bawahnya, jalanan utama distrik itu tumpah-ruah oleh orang yang baru pulang kantor maupun shopping di sekitar Namba. Lagipula sebentar lagi memasuki bulan Desember dan semua orang ingin mempersiapkan Natal dari jauh-jauh hari, tidak terkecuali di kota bisnis macam Osaka.
Packing sudah selesai dan Kei siap melangkah pergi, meninggalkan segala fasilitas mewah dibelakangnya. Sekali lagi.
Seorang cowok berambut tousled seleher dengan gaya distinctively flashy seperti seleb Jepang di ajang karpet merah, berdiri menghalangi langkahnya. Disilangkannya tangan kanan itu menutupi lubang pintu.
“Sepertinya elo akan bepergian jauh lagi..” Kaminari Toshiya menebak yakin. “San Francisco?”
“Bukan.” Kei mengapit tiket pesawat di pegangan traveling bag -nya. “Jakarta.”
“Hoo~!” Toshiya bersiul menggodanya. “Masih mau menghajar Chris Hanafiah, Kei? Saran sebagai kakak, mengingat hubungan baik kedua keluarga ini, sebaiknya urungkan saja bogem mentahmu itu—“
Kei tersenyum penuh arti. “Justru.. gue ingin membantu Hanafiah.”
Penthouse yang ditempati keluarganya begitu luas dan lengang. Pada jam segini, hanya Toshiya yang sudah pulang beraktivitas. Kakek mereka Kaminari Mikage, founder dari Kaminari Shipping, masih seliweran di pelabuhan untuk memastikan kelancaran arus masuk beberapa muatan kargo dari klien barunya. Sejak dulu Osaka memang terkenal sebagai pusat industri dan pelabuhan utama yang selalu sibuk. Dan sejak dulu pula keluarga Kaminari yang merupakan kerabat dekat dari Nobunaga Oda di jaman Edo memulai bisnis pengepakan dan pengiriman barang, memanfaatkan hidupnya perdagangan di kota ini.
Kei dan Toshiya adalah generasi sekarang yang dipersiapkan untuk mengambil alih Kaminari Shipping seandainya Kaminari Mikage dan Kaminari Shinggo (ayah Kei dan Toshiya) mangkat. Ada kepercayaan tertentu bahwa perusahaan tidak akan berjaya lagi jika ditangani oleh orang yang tidak dialiri darah Kaminari. Jadi walaupun minat Kei adalah bangunan dan arsitektur, kiprahnya akan tetap bertumpu pada cargo dan shipping .
Pada Kaminari Shipping Co.
“Berhubungan dengan Ken no Namida lagi?” menyebut itu, ekspresi Toshiya mengeras, nampak kurang suka. [ Ken no Namida = Sword's Tears]
Toshiya punya alasan kuat untuk tidak suka. Kasus terakhir tentang Ken no Namida ini melibatkan adiknya sampai membuat media lumayan ricuh lantaran Diaz cs (Kei ada didalamnya) menerobos masuk ke Von Suttonheim mansion di San Francisco. Bahkan Kei sampai mengajari salah seorang putri Hanafiah, Bianca, lebih jauh lagi mengenai Shinobi-iri , yaitu metode silent movement dalam kegelapan. Menurutnya itu sama sekali bukan hal yang bijak. Buat apa pula menjadi ninja di jaman moderen seperti ini?
“Tidak.” Kei tidak menjelaskan panjang-lebar. Ia hanya selalu teringat perkataan kakek. Lebih detail lagi, ia selalu teringat satu nama yang seringkali kakek ucapkan dan bagaimana keluarga mereka terlibat di dalamnya. Hirano Suzuna. Semua tentangnya mungkin menjadi lebih jelas begitu ia sampai di Indonesia.
Rencana ini seharusnya dimulai sejak beberapa bulan yang lalu, namun Toshiya tiba-tiba memintanya ke San Francisco, memperkerjakannya sebagai barista Starbucks di Market & Powell (tanpa sepengetahuannya lebih dahulu!) untuk membantu salah seorang keluarga Hanafiah yang menjadi bulan-bulanan SmithsonCorp. Kei harus mengalah. Janji tidak terucapnya pada Suzuna-san harus menunggu dulu.
Namun kini ia siap; ia akan mengupayakan apa saja untuk membantu Suzuna-san, termasuk dengan mencari pesan di dalam mimpi, kekuatan yang selama ini ia miliki. Menurut informasi kakek, Suzuna-san memiliki seorang putra keturunan Indonesia yang sepantaran dengannya, dan masih ‘linglung' menghadapi hidupnya. Linglung dan marah. Orang ini.. bisa dibilang bagian dari keluarganya yang terbuang. Kei miris waktu tahu ini.
Agak terganggu dengan jawaban pelit adiknya, Toshiya menyodorkan harian The Jakarta Post dengan tajuk matacakara pulls rank as indonesia's TELECOMMUNICATION new player . Untuk memantau pergerakan dunia bisnis di antara klien-kliennya, Toshiya senang mendatangkan puluhan surat kabar harian dari berbagai negara yang hebatnya bisa ia lahap semua tiap minggunya.
“Hanafiah Group sepertinya punya saingan baru yang berbahaya. To know your enemy, you must become your enemy . CEO MataCakra ini masih sangat muda. Seumuran denganku. Hmm.. dan kalau kamu tidak bisa mengalahkan musuhmu, bergabunglah dengannya.” Toshiya berhenti sejenak. Sudut bibirnya tertarik ke pinggir, tersenyum penuh arti. “Dengan menikah, misalnya.”
Kei tahu maksud pernyataan Toshiya yang berbicara penuh kiasan. MataCakra diam-diam memang saingan Hanafiah Group di Indonesia. Dan seharusnya ia nggak usah ambil pusing mengenai itu, tapi salah satu orang dalam MataCakra adalah ‘keluarga'-nya juga dan ia tidak ingin mereka berperang. Hal ini semakin membulatkan tekadnya untuk cabut ke Kansai International Airport dengan e-ticket dadakan yang baru dibelinya.
Ditatapnya langit Osaka yang selalu mendatangkan kedamaian tersendiri baginya. “ Aoi sora.. ka?” ia bergumam sentimentil. [Langit biru.. ya?]
Semoga saja kedatangannya ke Indonesia tidak terlambat. ***
JAKARTA
Hola! Gue dah di Indo lagi nih. Malam ini mau bawa Sisy ke rmh Nenek, meresmikan hub kita di dpn kel besar. Akhirnya momen berharga ini dtg jg. Though it's a short notice, I hope you could come over, Bi... C U!
Bianca nggak kuasa untuk menahan senyumnya, ikut berbahagia membaca SMS dari Diaz. Ia meminta maaf dalam hati pada Diaz karena tidak bisa menyanggupi undangan itu. Lagipula, mengingat Diaz nampaknya baru tiba di Indonesia—sedang mabuk kepayang pula ama Sisy—kemungkinan besar ia belum tahu berita sensasional itu.
Dengan mantap, Bi pun melangkah keluar dari taksi yang membawanya ke depan bangunan berbentuk dome raksasa bernama Karlü. Setelah beberapa kali berputar-putar di sekitar bagian selatan dan pusat Jakarta, memilah-milah ingin turun di mana; X2 pasti sangat ramai dan banyak teman yang akan dijumpai di sana, membuatnya nggak bisa menikmati dalam sendiri, Dragonfly penuh dengan orang classy yang bersukacita, baik ama teman maupun pacar—itu hanya akan Bi sirik karena dalam waktu singkat ia akan kehilangan itu.
Akhirnya Karlü menjadi pilihan yang paling cocok karena environment di situ cenderung individualis, tidak warm seperti tempat lain.
Di Karlü, Bianca tidak akan merasa risih duduk sendirian, meratapi nasibnya di bar. Mengingat selama ini ia diajak dengan paksa oleh Diaz, karena sebelumnya Diaz diajak dengan paksa oleh sobatnya Igo yang nge-DJ di situ, Bi jadi tahu rutinitas para clubhopper semalaman.
Ia bukan hedonis sejati seperti Nara, Reno, maupun Rae (yang terakhir ini nggak pernah mau ngaku!).
Tapi kini...
“ D os más cristales !” Bianca ngoceh dengan kepala tertangkup di meja bar dan 2 jari teracung ke atas. [Dua gelas lagi!]
Si bartender yang sempat bengong karena nggak ngerti bahasanya, hanya menyodorkan minuman sama yang dipesan nona frustrasi ini sebelumnya: Tequila.
“Hey, hey...” Sebelum Bianca dengan gamang bisa meraih gelas kecil itu, sebuah tangan sudah mendahuluinya dan meminum sekali tenggak. Orang ini mengambil tempat di sisi kiri Bianca, dan temannya di sisi kanan. Mereka terlihat lebih tua dari Bi, mungkin sepantaran Diaz—dan terlihat jauh lebih berbahaya dari Diaz.
“Kembalikan.” Dengan mata susah untuk fokus, Bi berusaha meraih kembali gelas kosongnya dan ia hanya meraih angin.
Cowok itu mengangkat gelas di tangannya lebih tinggi sambil terkekeh. “Kamu seperti yang di Casino Royale . Cantik dan menantang.”
Yang satu lagi menyahut,”Temenin kita, yuk. Sori nih Tequila-nya diembat Arlo. Gue ganti, deh. Asal kita bisa terusin di hotel—“
BUKK!
Walaupun mabok, lutut Bianca dapat bergerak cepat menghajar uluhati cowok yang ada di sebelah kirinya. Dan sebelum temannya sempat bereaksi, Bianca mengambil gelas Tequila di depan untuk menghantamnya di bagian pelipis.
“Brengsek lu—!”
Suasana bar Karlü yang fun berubah jadi mencekam, tanpa satu pun ada yang berani maju membantu. Kebanyakan dari mereka, yang sober maupun nggak, malah menanti pertunjukan ini jadi lebih seru. Gimana nggak, pemeran utamanya cewek sih!
“Yang brengsek tuh Sultan!” Bianca memekik gemas. Tentu saja yang diteriakin nggak ngerti sama sekali akan ini.
Sebuah tangan membekap mulut Bianca dari belakang dengan kasar. Bantuan datang tapi bukan untuknya. Namun begitu, ia nggak peduli. Dengan segenap rasa marah yang ada: rasa marah pada nenek, pada Reno, dan terutama pada Sultan-Sultan ini, Bi menyikut orang di belakangnya. Ia merasa pertahanannya berhasil karena bekapan orang ini melonggar diganti dengan lolongan suara.
“3 lawan 1—ama cewek pula—itu kotor sekali.”
Orang ketiga yang tadi menyakiti Bianca mundur tertatih dengan bentuk jemari tangan kiri yang sudah nggak presisi lagi. Bi sempat terbengong-bengong melihatnya. Tadi dipatahin, tuh? Gila juga si penolongnya ini...
Ketika Bi berusaha memantapkan kuda-kudanya lagi, ia terbatuk beberapa kali dan muntah dengan spontan di kaki si penolong.
“Hadooh.. Adidas yang baru gue beli!” si penolong berteriak histeris, membuat suasana kian gaduh hingga sekawanan sekuriti berlarian ke arah mereka. “ You really owe me a good deal, lady! ” Setelah geleng-geleng kepala melihat kondisi Bianca, dengan sigap ditariknya tangan gadis ini menuju emergency exit .
Tebal: 310 halaman
Ukuran: 15 x 23 cm
ISBN:
979-3750-29-4
Harga: Rp 49,500
Penerbit: Terrant Books


