


Paperback synopsis
Petualangan di Madriva sudah selesai?
Tadinya Seira mengira begitu.
Ia salah besar.
Seira kini masuk dunia perkuliahan dan tinggal bersama nenek. Ternyata kehidupan baru pilihannya tidak semulus dugaan. Dimulai dari Seira yang harus membiasakan hidup “sederhana”, dunia kampus yang tidak selalu bersahabat, serta Abel yang asyik dengan teman barunya. Tapi posisi Abel tergantikan dengan Ransha si senior yang membuat Seira yakin ia bukanlah satu-satunya yang mengetahui Legenda Madriva. Terlebih lagi, Ransha nampak sangat terobsesi akan gelang “Darah Biru”, gelang emas yang tidak pernah bisa lepas dari tangan Seira.
Abel uring-uringan. Dhimas, kakak yang tidak pernah akur dengannya, berlibur ke Jakarta di saat ia merasa banyak kejanggalan terjadi pada dirinya: badai es, mimpi tentang ”Iolanthe” yang terus menghantuinya, serta berbagai rahasia aneh dirinya yang dipaparkan Kakek Ghani Sardjono. Mustahil, kan, apabila Bumi memiliki dimensi lain--apalagi dengan dirinya menjadi raja di situ? Namun Abel heran; mengapa kisah ia dan kakaknya terlukis sebagai “Seth dan Tristan”? Mengapa selalu ada kejadian ajaib saat ia bersama Seira?
Dan tatkala segala kemustahilan itu terkuak, Abel hanya mampu tercengang melihat tangannya dapat mengeluarkan api. Ia yakin, masih banyak rahasia dirinya yang minta diungkap. Ia hanya berharap semua itu tidak membahayakan Seira--seperti yang ditakutkannya selama ini.
Excerpt
‘Jagalah talisman, wahai Sairen Seth, Kaili Iolanthe.’
Seira berdiri kaku. Barusan ia mendengar sesuatu!
Abel melirik ke bawah, tepatnya ke arah kaki jenjang gadis ini sambil tersenyum seribu makna. Ia tersenyum jahil atas apa yang dilihatnya.
“Err, kamu punya kaki yang bagus kok. Terus kenapa?”
Suara siapakah? Apa aku delusional? Seira masih tak mampu berbicara. Dilihatnya Abel nampak tidak mendengar apa yang didengarnya.
“Hey, bukan itu maksudku!” menyadari apa yang membuat tatapan Abel terkunci, Seira hanya bisa memberikan balasan jutek, berharap rona pink di pipinya dapat tersamarkan. Dengan cepat ia halau delusinya itu.
“Pagi-pagi kok udah ribut banget, sih? Kamu tahu, Nenek tuh sabar sekali menghadapi kamu. Terlalu sabar.”
“Sudah sarapan, Abel?” Nenek menuangkan teh untuk tamu mudanya ini.
“Sudah. Terima kasih, Nenek. Tapi kayaknya spoiled princess belum, nih,” Abel melirik ke arah Seira dengan tatapan menggodanya. “Ayo cepetan.. aku harus nganter kue pesanan Bu Mirtha dulu. Nanti kita parkir di Sunway Square aja ya. Emang sih, jalannya agak jauh. Tapi daripada ketahuan bawa mobil ke kampus ama senior, kan?”
“Iya, iya,” dengan panik, Seira mengepang rambut ikalnya dengan pita warna-warni di tangannya. Rasanya ia kesal dan maluuuu banget harus tampil se-katro ini di depan cowok pujaannya.
Ehemm, hanya cowok pujaan.
Sejak kejadian Seira terhisap ke dimensi Madriva dan Abel sempat terkena badai es runcing karena ingin menyelamatkan dirinya, iapun dapat berkenalan dengan striker idola tim sepak bola SMU Nasional High yang bernama Abel Dharmacahya. Well, bagi beberapa orang, hal ini mungkin biasa aja. Tapi, tidak bagi Seira.
Setelah Seira dapat kembali dengan selamat dari dimensi Madriva, dimana di sana dirinya sempat bertempur dengan Seth (sang raja negeri itu yang memiliki wajah sama seperti Abel), ia melewati beberapa momen menyenangkan bersama si striker. Salah satunya, Abel menjadi partner Seira saat prom night SMU mereka yang bertema Mardi Gras. Mereka bahkan kompakan memakai kostum Zorro. Yang satu jadi Zorro cowok (Abel), dan satunya lagi Zorro versi cewek (Seira). Kontan saja ini membuat Toby, Zaki, dan Sakti menganga tidak percaya melihat polah mereka berdua, karena menurut mereka, gaya androgini Seira sangat seksi. Tapi, kenapa Seira malah pergi bersama Abel?
Pada malam yang indah itu, tanpa sepengetahuan Seira, Abel merasa bahagia--dan lega sekali--karena niat iseng (dan jahat) Toby tidak terlaksana, yaitu taruhan para cowok atas siapapun yang berhasil ngajak Seira buka kamar berduaan saja. Saat itu mereka semua udah kepalang menganggap Seira sebagai pasangan Abel--dimana Seira sendiri juga sempat berpikir demikian. Tapi ketika keajaiban prom berakhir dan hari-hari berjalan kembali seperti biasa, Seira pun menyadari bahwa hubungannya dengan Abel tidak lebih dari pertemanan biasa. Sampai kini.
Namun mereka bukan sekadar saling kenal saja, karena keduanya benar-benar berteman baik.
Dan di luar dugaan pula, Abel adalah orang pertama yang Seira ceritakan perihal perceraian orangtuanya, serta kepindahannya ke rumah nenek. Yang mengejutkan, nenek dan Abel kini jadi dekat satu sama lain dengan mudahnya. Padahal butuh waktu 3 tahun bagi Seira untuk bisa dekat dengan cowok ini!
Mungkin Seira harus belajar banyak dari nenek mengenai cara jitu berteman baik dengan lawan jenis.
Ketika jam tua di rumah nenek berdentang keras, menunjukkan pukul enam seperempat, Seira hampir saja mogok ke kampus karena ia tidak percaya melihat refleksi dirinya pada standing-mirror di kamar. Sekatro ini, dan harus semobil dengan Abel? Ini benar-benar kiamat!
“Cucu Nenek sudah cantik, kok,“ ucap nenek tiba-tiba dari belakang dengan senyum terkulum.
Mendengar komentar nenek dalam suara cukup keras, perlahan kepala Abel menyembul di pintu kamar Seira, ia tertawa kecil. “Dengar kan yang Nenek bilang? Kostum kamu justru yang bikin cantik. Ha-ha-ha.”
“Abel!”
“Ayolah, Sei. Kamu nggak mungkin malu di depan aku, kan?“ Abel bersandar di pintu kamar Seira yang setengah terbuka dengan gaya kasual, namun tatapan mata elangnya cukup intens, membuat wajah Seira serta-merta memerah.
“Yang bener aja!“ Seira membuang muka, berusaha tak acuh walaupun saat ini rasanya ia deg-degan setengah mati.
Mereka akhirnya pamitan dengan nenek. Tidak hanya Seira, Abel juga ikutan mencium punggung tangan nenek dengan sopan. Sikap ini lebih kepada rasa sayang daripada sekadar berbasa-basi.
“Pulang naik apa, Seira?” nenek mengecek. Ini memang salah satu pertanyaan rutin beliau yang mungkin simpel, namun ketara sekali perhatiannya. Ia ingin memastikan cucunya selamat sampai rumah tiap saat.
“Naik bus--“
“Saya bisa antar, Nek.” Abel memotong cepat, nyengir lebar.
Seira menoleh. Abel hanya menggeleng, seakan-akan ingin berkata ‘tidak apa-apa kok nebeng lagi.
Seira keluar dari rumah lebih dulu, mencari-cari running-shoes yang ia lupa taruh dimana. Abel dan nenek berjalan mengikutinya di belakang. Nenek menyerahkan sebuah plastik berisi sandwich telor dan sayuran. “Untuk kalian berdua.”
“Terima kasih banyak. Maaf merepotkan.” Abel menerima dengan senyum santun. “Ngg, mengenai Seira.. Nenek tidak perlu cemas, apapun yang terjadi, saya akan menjaganya.”
Nenek menepuk-nepuk punggung anak muda ini sambil membetulkan letak kacamatanya yang merosot. Ia tersenyum bersyukur.
Selama di perjalanan, Abel hanya diam seribu bahasa, nampak merenungi sesuatu yang penting. Seira tahu karakter Abel yang cenderung tidak banyak kata, namun kini ia terlalu hening. Ketika ditanya kenapa, Abel menjawab bahwa ia tegang karena mendengar rumors perploncoan anak cowok di UNI bakalan sadis banget.
Abel berbohong dan Seira tahu itu.
“Tenang aja. Pasti nggak sesadis cewek-ceweknya, deh,” celetuk Seira.
Kini Abel menatapnya serius. Ia mendadak cemas akan satu hal yang barusan Seira sebutkan, padahal tadi Seira hanya bercanda. “Justru itu. Panggil aku aja ya kalau kenapa-kenapa. Aku sudah berjanji ama Nenek untuk jagain kamu.”
Kadang sikap protektif Abel yang old-fashioned menyentuh hati Seira bahwa sahabatnya ini memang orang yang simpel baik.
Akhirnya mobil sampai di area parkiran mal besar daerah Kebayoran Baru, Sunway Square. Mereka berjalan kaki sejauh hampir 1 km ke kampus UNI. Walau belum-belum kakinya sudah capek, Seira menyetujui ide ini. Menjadi ksatria Madriva kan nggak membuat Seira terlalu tangguh untuk menghadapi cewek-cewek piranha alias senior di kampusnya nanti, jadi ia tidak akan mengambil resiko.
Seira menatap langit pagi yang cerah, lalu tiba-tiba ia merasakan semilir angin--yang amat dingin--menggelitik telinga kanannya.
Terlalu dingin untuk ukuran Jakarta, terutama di bawah matahari seperti ini.
“Datanglah padaku.”
Abel menghentikan langkahnya dan memandangi sang gadis dengan ekspresi takjub, juga cemas. Saat ini, di sekeliling tubuh Seira terlihat samar-samar sinar keemasan yang berpendar kian terang. Lalu, rambut gadis ini juga berkibaran seperti ditiup angin yang berangsur kencang, padahal Abel yang berdiri setengah meter di belakangnya tidak merasakan apa-apa.
Aneh--cantik! Abel membatin. Seira terlihat seperti bidadari yang sedang mandi matahari. Tapi Abel mending bunuh diri daripada mengakui itu langsung di muka. Ia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Dan yang paling mencengangkan saat ini adalah tubuh Seira nampak gemetaran hebat!
‘Kamu tidak mendengarkanku. Jaga talisman itu!’
Seira memeluk tubuh dengan kedua tangan. Matanya terpicing, seperti sedang melawan sesuatu yang melingkupi dirinya.
Seperti sedang kesakitan.
Dan Abel setengah mati ngeri melihatnya sampai tidak berani berkutik.
Seira nampak susah payah mengangkat kepalanya demi menemui tatapan cowok di sisinya. “Abel... aku beku sekali.”


