Paperback synopsis
Sekolah, prom nite, cowok, dan… istana di langit?

Seira Hanasah hanyalah seorang gadis SMA biasa--yang kebetulan orang tuanya akan bercerai dan berebut hak asuh atas dirinya, serta ia sendiri memiliki kesulitan mengekspresikan perasaannya, terutama pada cowok dari tim sepak bola sekolahnya, Abel. Untuk itu, ia membuat sebuah lagu dari permainan pianonya sebagai mediator perasaannya pada Abel, yang berjudul Serenity. Namun, siapa sangka saat Seira akan memberikan CD lagu itu, ia malah terhisap ke dimensi lain yang memiliki pemandangan cantik dan amat magical.

Seth sang penguasa dimensi Madriva menginginkan lagu ciptaan Seira sebagai kunci untuk membuka gerbang dimensi, dan mengambil alih dunia di mana Seira berada.
Dan hanya Seira yang dapat mencegahnya--melawannya, dengan menjadi putri ksatria ‘Legenda Madriva’ itu sendiri, walau ia merasa dirinya tidak ada potongan pahlawan sama sekali.

Tapi, bagaimana mungkin Seira dapat memerangi Seth, seorang laki-laki yang terus mengatakan bahwa mereka adalah soulmate, dan lebih dari itu… wajah Seth dan Abel sama!

 

Excerpt
Aku melayang. Terombang-ambing menembus hamparan awan selembut kapas tepat di depan mata, merasakan terpaan angin di wajah.

Lalu satu persatu gumpalan awan di hadapanku bergeser tertiup angin, memberi pemandangan baru yang membuat napasku tertahan. Samar-samar aku melihatnya…

…Istana di langit.

Kukira semua ini hanya dunia khayalan yang sering diceritakan Bunda ketika aku masih kecil… Kerajaan di atas awan, negeri kahyangan tempat para bidadari bermain, dan sebagainya.

Aku mendekatinya dengan rasa penasaran bercampur takut yang saling mendominasi.. Rasanya tempat ini sebenarnya terlarang. Bukan sesuatu yang seharusnya kudekati.

Kujejakkan kaki kananku duluan di sebuah lapangan bebatuan yang luas. Nampaknya lapangan ini merupakan gerbang utama dari istana menakjubkan tersebut. Kabut yang pekat saat itu membuatku tidak dapat melihat apa-apa, selain tanah dan bebatuan yang kupijak.

Pada bajuku terdapat beberapa bercak warna merah, dengan sedikit titik-titik hijau dan kuning. Aku menengadah ke atas. Kurasa ini karena pelangi yang kulewati tadi, dimana spektrum warnanya begitu nyata, dan meninggalkan noda seperti cat. Sungguh ajaib.

Tapi, mungkinkah… pelangi bisa meninggalkan warna di baju seperti ini?

Aku sempat terdiam untuk beberapa saat, ragu.. berusaha menelaah sesuatu yang ditolak akal sehatku. Dan, apakah sebaiknya terus melangkah atau mundur dari tempat asing ini.

Tapi seiring dengan menipisnya kabut di sekitar situ, semakin kuatlah rasa penasaran menggelitik di sanubari ini. Apalagi saat kulihat sebuah sosok yang amat familiar--dan kurindukan—muncul di depanku.

Abel.

Ia tersenyum hangat padaku, lalu menjulurkan tangannya, seperti ingin mengajakku ke tempatnya.

Kabut yang menyelimuti kami kini hilang sama sekali, dan aku dapat melihat figur Abel dengan jelas… lalu aku pun terkejut dalam sunyi.

Seperti biasa, Abel terlihat ganteng dan gagah, namun kini dengan seperangkat pakaian yang amat tidak biasa menempel di badannya.. dengan jubah yang panjang melambai, dengan benda warna hitam seperti mahkota di kepalanya, dan terdapat beberapa bebatuan seperti safir, opal, dan zamrud pada pakaian dan celana panjangnya… bahkan juga pada sepatu boot yang hampir mencapai lututnya.

Semua dalam nuansa hitam. Semua terlihat indah.

Indah kelamnya.

Abel seperti seorang pangeran.. dari kegelapan.

Dan siapakah aku?

Saat aku akan menyambut tangan itu, sebuah kilat menyambar di antara kami, membuatku jatuh terpelanting, dan bajuku--gaun satin maroon-ku yang indah--sobek.

Aku terkejut. Aku tidak mengerti, bahkan hanya mampu bergidik takut.

Ketakutan setengah mati.

Selain itu, napasku terengah-engah… karena ngeri.. juga kedinginan.

Setiap napas yang kuhembus berubah menjadi kristal es yang lalu rontok di udara.

Sekelilingku kini diselimuti es, juga kabut tebal lagi.

Sama seperti tadi.

Aku sendirian… dan amat ketakutan.

Ketika aku balik badan, Abel--dalam kostum aneh tadi--sudah berdiri di situ. Satu tangannya maju untuk mencengkeram pergelangan tanganku dengan keras.

Sangat keras sampai kuku-kuku orang ini yang sebenarnya tidak panjang, terasa sakit mengelupas permukaan kulitku, sampai mengeluarkan darah.

Abel tersenyum ke arahku dengan sorot mata jahat--sangat jahat. Tangan yang satunya lagi menjulur ke depan dadaku dengan telapak tangan terbuka, menginginkan sesuatu.

“Lagumu... berikan padaku.” Cowok berparas Abel ini berkata dalam suara rendah. Suara Abel yang biasa kudengar, walau hanya dari kejauhan.

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan tidak mengerti sambil terus berusaha membebaskan diri yang rasanya tidak mungkin dari cengkeraman sekuat itu

Ketika kulihat sebuah bola cahaya yang kian membesar di telapak tangan Abel, disertai raut wajahnya yang berubah menjadi ekspresi tidak suka, aku tahu aku pasti kiamat di sini.

Ia akan membunuhku!

Jakarta, pagi hari
“TIDAAAAKKK!!!!”

Seira bangkit dengan segenap kekuatan dan paksaan dari tidurnya. Duduk terjaga di atas ranjangnya yang megah dan pada sisi kanan-kirinya terselimuti kelambu merah muda. Napasnya masih ngos-ngosan dan tubuhnya bermandikan keringat, sampai rasanya ia ingin segera loncat dari tempat tidur untuk segera mandi.

Andaikan ia kuat untuk bangun dari tempat tidurnya.

Perlahan, seakan takut apa yang menjalari pikirannya saat ini ternyata benar adanya, Seira melihat ke arah pergelangan tangannya yang--anehnya--kini merasa sakit. Nyeri.

Hah??!! Ia hampir saja teriak lagi, ketika mendapati bekas kemerahan yang mengelilingi pergelangan itu. Bekas yang terlihat samar, namun jelas-jelas seperti habis terjerat tali tambang.

Seperti habis dicengkeram sekuat tenaga.

Seira sempat tercenung beberapa saat. Ia bermimpi hal yang sama. Mimpi yang terus-menerus menghantui tidurnya, dan biasanya tidak pernah semencekam itu.

Sepertinya semalam adalah klimaksnya.

Akhir dari hidupnya.

Tebal: 256 halaman
Ukuran: 12.5 x 20 cm
ISBN: 979-3750-11-1
Harga: Rp 29,800
Penerbit: Terrant Books