Paperback synopsis
Satu Hari Berani dan cerita-cerita lain merupakan kumpulan cerpen karya penulis Sitta Karina yang pertama kali diterbitkan, berisi kisah-kisah seputar dunia remaja yang ceria, seru, maupun sedih serta sarat pembelajaran. Sebelumnya cerpen-cerpen tersebut pernah dimuat di beberapa majalah seperti CosmoGIRL!, HAI, Gogirl!, Cerita Kita, dan SPICE!.

Lebih lanjut tentang Sitta Karina dan buku-bukunya, kunjungi www.sittakarina.com.

TESTIMONIAL

This is one-of-a-kind type of book! Gaya penulisan dan ide cerita yang ringan dan dekat dengan our daily life sukses bikin buku ini jadi ‘my daily bible ' di tasku. Anyway, Sitta really knows how to tell a story without making you bored.
Agni Pratistha A.K. , Puteri Indonesia 2006, Executive editor Majalah CosmoGIRL!

“Sitta Karina menyambut globalisasi melalui tulisannya yang tidak hanya inspiring, tetapi juga mengubah paradigma remaja supaya lebih mencintai budaya Indonesia tanpa menghindar dari globalisasi itu sendiri...”
Alanda Kariza , Penggagas The Cure For Tomorrow , finalis CosmoGIRL! of The Year 2006, penulis novel “Mint Chocolate Chip”

“Karya-karya Sitta punya warna tersendiri yang 'catchy' dan sangat berkarakter. Isinya benar-benar fun, touchy, dan selalu enak untuk dibaca—bahkan untuk yang kedua kalinya. Ketika kamu mulai membaca kalimat pertama, kamu nggak akan bisa menutupnya sebelum selesai membaca kalimat terakhir!”
ANISSA RAHMAWATI, Pelajar SMAN 3 Bandung

 

 

Excerpt
SATU HARI BERANI
(dimuat di Majalah HAI , edisi 8/XXX 20 Februari 2006)

Tergesa-gesa, Cokro Hanafiah berlari menyeberang jalan raya bersamaan dengan sebuah bus yang tiba-tiba berhenti mendecit tepat di depannya.

Ia segera naik. Teman-temannya sudah menunggu di Sky-Ramp , arena skateboarding baru yang menjadi tempat tongkrongan mereka, jadi ia tidak mau ketinggalan pamer aksi karena si ‘cantik-jutek-tapi cute ' Siris juga ada di situ.

“Hey, Hanafiah!” Sosok bertubuh besar, kekar, berlari tergopoh-gopoh dari pelataran SMA ke arahnya. “Kamu akan menyesal ketahuan cabut ama saya!”

Chiko—panggilan akrab Cokro—melotot horor mendapati Pak Wido, guru olahraga yang mantan atlit Olimpiade basket ini mengejarnya.

“Tarik, Pak!” seru Chiko buru-buru pada si supir bus.

Di dalam, Chiko tertawa ngakak melihat polah si guru, lalu melambaikan tangannya dengan jahil, seiring dengan bus yang melaju pergi.

Chiko adalah bungsu dari 4 bersaudara. Ia punya 2 kakak cowok dan seorang kakak cewek. Tapi, yang lebih seru lagi adalah keluarga besarnya, keluarga Hanafiah, terdiri dari 80% cowok—dimana ini berarti mereka terbiasa melakukan ‘kejahatan seru' ala cowok yang jahil, kocak, dan—seharusnya—keren, tapi herannya sering dipandang ‘ajaib' oleh para cewek.

Seperti nanti, misalnya, dimana Chiko akan memperagakan gaya skateboarding terobosannya yang cukup berbahaya dan belum pernah ada yang mempraktikkan sebelumnya.

Persoalannya, hari ini Chiko harus mengikuti remedial yang diadakan kelasnya, dan dengan nekatnya ia malah cabut demi bisa petantang-petenteng di depan Siris dan cewek-cewek lain. Ia juga tidak mempedulikan perkataan (sekaligus ancaman) Pak Wido yang nggak pernah bosan ‘ngomel' agar Chiko mencari waktu yang tepat kalau mau pamer gaya di depan siswi-siswi lainnya. Pak Wido sangat anti terhadap madol, padahal Chiko tahu banget, menurut gosip di kalangan siswa, jaman dulu Pak Wido pernah jadi preman yang megang area Kebayoran—bahkan sempat jadi gembong di Tanah Abang juga.

Orang tipe Pak Wido seharusnya mengerti hasratnya untuk jadi pejantan tulen. Nggak mungkin banget- lah Pak Wido nggak pernah ngerasain madol.

Setelah beberapa menit Chiko melamun serius, bus akhirnya berhenti di halte yang dituju. Seseorang berambut ikal-gondrong menyenggol bahu Chiko keras, menyerobot jalannya, nampak terburu-buru turun, seperti tengah mengejar sesuatu.

Chiko mengumpat kesal seraya mengikutinya, sesaat penasaran akan bahasa tubuh si orang tidak tahu diri itu yang nampak tidak tenang. Mencurigakan.

Instingnya sebagai pejantan terpanggil. Egonya sebagai ‘petarung' yang akrab dengan segala beladiri di lingkungan keluarga besarnya, terpancing. Chiko tengah membayangkan dirinya Jason Bourne seperti di film The Bourne Identity dan ia berusaha keras melakukan profiling singkat; siapa orang ini, apa profesinya, apa yang tengah ditujunya.

Si gondrong berjalan kian cepat, lalu berhenti merapat di sebelah seorang ibu setengah baya yang berdiri menunggu bus berikutnya.

Jantung Chiko berdegup cepat tatkala menyadari perbuatan si gondrong, serta proses profiling -nya yang lambat. Tidak perlu sampai profiling segala untuk tahu apa profesi orang ini, apalagi dengan tangannya yang cekatan merogoh ke dalam tas si ibu.

Sesuatu berhasil dirogoh keluar. Dompet si ibu.

Keberanian yang biasanya bercokol di diri Chiko perlahan meredup karena ia belum pernah menghadapi penjahat beneran sebelumnya.

Tebal: 184 halaman
Ukuran: 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-3528-9
Harga: Rp 25,000
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama