

Paperback synopsis
Saat itu musim gugur di San Fransisco, Amerika.
Ia melenggang ringan melintasi Union Square. Bersemi dalam kehidupan barunya.
Lalu dirinya bertemu dengan sang pangeran dari masa lampau.
Memori 2 tahun yang telah membeku, kembali berpendar diantara kepulan uap panas Hot Cappucino, minuman yang tidak pernah disentuhnya sejak ia hengkang dari komunitas Bintaro Lakeside...
The Lady Rain
Sisy Iswandaryo pernah memiliki kenangan manis--dan lucu. Tapi itu dulu. Dan sekarang semua telah berubah. Satu hal yang tetap sama adalah ia masih sangat menyukai hujan!
The Night Warrior
Diaz Hanafiah hanya menjalani hidup normalnya, termasuk ketika dirinya bertunangan dengan Maifreya. Tapi, pertemuannya dengan Sisy mengguncang kebulatan akal sehatnya. Dan ketika tragedi berdarah menimpa dirinya, ia harus berjuang untuk hidup--dan menjadi pelindung putri hujannya. Sekali lagi.
The Determined Crusader
Finist von Suttonheim bertolak dari Italia, ingin mengambil miliknya kembali: si mungil Sisy--sahabat masa kecilnya di Wina. Tapi kini ia berhadapan dengan rival yang amat mengganggu. Serangga pengganggu, baginya. Mungkin saatnya kini ia menarik pelatuk dan menegaskan siapa yang paling berkuasa.
The Fallen Angel
“I choose my friends for their good looks, and my enemies for their good intellects.” Begitu kata Adry Kielsten. Ia dan Diaz sudah saling kenal baik sejak keduanya masih kecil. Menurut para sepupu Hanafiah, mereka adalah satu jiwa yang terbagi dua. Namun, kini Adry tidak pernah menyangka akan bertemu Diaz lagi dalam skala ambisi dan intelegensia yang setara dengan dirinya.
The Wavering Shadow
San Fransisco mungkin bisa membuat Chris Hanafiah benar-benar melupakan masa lalu yang pahit. Lagipula ia ingin membantu bisnis yang dimotori Diaz. Tetapi di sana ia malah bertemu Kayo Kilpatrick--atau Kaminari Kayo--sepupu dari rival imajinernya masa SMA, Kaminari Kei. Dan Kei tidak akan membiarkan sepupunya bersama laki-laki yang telah membiarkan Aki meninggal.
Excerpt
San Francisco, California
KALAU kamu berpendapat cinta akan semulus di cerita-cerita, itu bullshit.
Begitulah pendapat Adrianna Sistania Iswandaryo, gadis 18 tahun berambut coklat gelap ala ’80 mod-look seleher, menyuarakan itu di hatinya seraya komat-kamit menutup pembicaraan di ponsel dengan Kayo Kilpatrick, sahabat karibnya di San Francisco. “Kayo, kamu nggak mengerti. Aku sudah nggak ada hubungan ama Diaz Hanafiah. Sudah sejak dulu.”
Sisy, begitu panggilannya, kembali menyusuri pelataran terbuka Union Square setelah tadi membeli buku puisi yang sudah lama ditunggu-tunggunya di Borders. Di ponsel barusan, Kayo ngamuk karena Sisy mengiyakan saja dikeluarkan dari tim cheerleaders akibat keteledorannya melamun di tengah hujan saat latihan membentuk piramida, hingga hampir mengakibatkan seorang anggota tim celaka.
Di Frisco, Sisy memang sempat menjadi cheerleader. Sebuah ekskul yang ‘hanya mimpi’ ketika di Jakarta dulu, karena nampaknya di sini cheerleader bukan hanya milik cewek cantik dan snobbish saja. Ia bisa terpilih karena dinilai memiliki badan lentur (ketika di Wina dulu, Sisy pernah ikut les senam) dan dengan cepat mempelajari gerakan baru.
“Selamat siang, Nona.”
Tiba-tiba seseorang menyapanya dari belakang. Suaranya tak dikenal, dimana Sisy menganggap itu biasa. Karena Union Square merupakan salah satu lintas kota yang paling urbane dan “hidup” di Frisco. Banyak orang lalu-lalang di situ, saling menyapa walau tak kenal.
Di sekeliling Union Square tumbuh jajaran pohon palem yang di-maintain secara teratur oleh pemerintah setempat. Pada lantai keramiknya bertebaran burung dara yang lalu-lalang memunguti remah makanan.
Union Squre telah mengalami renovasi ulang pada akhir tahun ’90-an. Desainnya mengacu pada piazza Italia yang hangat. Menurut opini sekilas Sisy, U-Square sangat merepresentasikan lingkungan high-society San Franciscan--mengingat lapangan terbukanya dikelilingi segala macam fashion outlet mulai dari Saks Fifth Avenue sampai Chanel, serta hotel mewah Westin St. Francis Hotel yang memang tempat langganan selebriti Hollywood.
Sisy balik badan, meneliti sosok di hadapannya. Hayden Christensen jalan-jalan di Union Square dan memanggilnya? Shut up! Ya iyalah, gak mungkin. Ia geli sendiri mendapati khayalannya.
“Hai, Sisy.” orang asing ini--seorang cowok sepantaran dengannya--memiringkan kepala, menikmati ekspresi bingungnya.
“Pardon? Do I know you?” lanjut Sisy halus. Nalurinya mengatakan orang asing ini tidak seasing yang dikiranya.
“You really shouldn’t forget a man who teach you waltz for the first time.” Dengan luwes, orang ini menarik punggung tangan Sisy dan mengecupnya.
Kalau ada orang tak dikenal memperlakukan Sisy sefrontal ini, biasanya reaksi pertama yang dilakukan adalah menamparnya. Bukannya menatapi sosok indah berambut dark blonde ini dengan terkesima--seperti sekarang. Sisy jadi teringat kemiripan sosok yang sama dari klan Hanafiah: tinggi dan cenderung langsing. Bedanya orang ini kaukasian, bukannya Indonesia.
“Kuharap kamu belum lupa masa kecil kita di Wina dulu. Austria sekarang semakin padat.”
Wina, Austri? Mungkinkah--? Sisy begitu terperangah. “Finist?”
“Beautiful as ever, Adrianna.” Finist menarik Sisy ke pelukan hangatnya.
“Wow, aku masih nggak percaya. Kamu benar-benar ada di sini? Bagaimana kabar Austria? Wina masih se-hectic dulu?”
“Slow down, Fürstin Adrianna. Austria masih seperti dulu. Festival musik, opera, dan serunya kancah politik. Semua tetap ada. Dan yeah, Wina kini lebih ramai. Semakin metropolis. Arus bertemunya semua commuter dari belahan Eropa tengah dan Eropa Timur.”
“Wah,” Sisy berdecak kagum,“aku kangen sekali dengan taman di Hofburg Palace.”
“Volksgarten.” Finist menyebutkan taman yang dimaksud. Ia surprised, hal seremeh itu masih tersimpan di otaknya yang penuh sesak oleh bisnis dan hal vital lainnya. “Tempat dimana kita sering berdansa waltz dalam salju. Kapan-kapan kita ke sana lagi. Kamu dan aku.”
“Really?” Sisy masih bingung, heran mengapa dirinya mendadak sentimentil; kangen Austria seakan-akan ia meninggalkan kekasih lama di sana.
Tapi, Finist tidak berubah. Bicaranya masih semanis dulu. Auranya selembut yang Sisy ingat. Dan dengan refleks--namun usil--otak Sisy membandingkan 2 orang yang pernah hadir dalam hidupnya: si lembut dan si temperamental.
Finist dan Diaz.
Kalau Jakarta dan Bintaro Lakeside-nya mengikat Sisy dalam kenangan yang panas dan bergelora, maka Wina menyelimuti Sisy dalam kenangan manis seperti gula-gula. Saat-saat dimana ia dan Finist masih kanak-kanak.
Sikap ramah dan hangat Sisy ini membuat Finist mendadak ingin hengkang dari aktivitas berikutnya di Union Square: lunch meeting. Sisy yang lebih ’wanita’ namun masih terlihat childish dalam gerak-gerik tubuhnya yang natural.
Dan Finist tidak bisa menikmati itu lama-lama. Darn this meeting, makinya.
Selama hidupnya, Finist merasa telah menjadi adik cepat tanggap, smart, berhati dingin demi bisa berpikir jernih--semua kualifikasi yang diinginkan Heinrich von Suttonheim kakaknya. Apa yang Heinrich minta, secepat kilat ia lakukan. Takut-takut. Takut Heinrich tidak puas dan malah merampas nama von Suttonheim dari pundaknya.
Jadi, kini Finist berharap dengan mangkir sekali dari janjinya takkan berdampak buruk bagi kepentingan bisnis. 1 hari vs. 22 tahun ia hidup. Kadang Heinrich suka melebih-lebihkan masalah dan di mata sang kakak, Finist selalu saja kurang.
Namun untuk sekali waktu ini, Finist membiarkan skala prioritasnya melenceng karena 1 hal yang biasanya tak pernah mengusik kebulatan prinsipnya: perempuan.
Finist akan ‘kabur’ bersama Sisy.
“Lihatlah kamu sekarang, Finist,” Sisy menatapnya kagum, membuatnya merasa superior,”Sudah menjadi orang penting ya? Oh well, I almost forgot, you are the von Suttonheim. Dari dulu keluarga kamu kan memang sangat penting di Wina.”
Finist tertawa renyah. Cewek memang doyan memujinya, tapi hanya Sisy yang begitu tanpa menginginkan berlian darinya. Finist salut akan itu, walau baginya wajar apabila seorang wanita itu materialistis.
“Aku hanya merasa penting kalau berada di sebelahmu, Si.” Finist mengaku. Ia menarik tangan Sisy dan memasukkan ke saku jaketnya. “Jadi melihat umurmu sekarang, seharusnya kamu di sini untuk kuliah.”
“Y-Ya, business school.”
Sisy terhenyak pelan. Jemarinya tersembunyi, bertaut dengan milik Finist. Ia merasa nyaman akan kebiasaan yang sama ketika dulu mereka masih di Wina. Ditatapinya Finist dengan manik mata mencari secuil jawaban. Kalau dengan Finist mungkin nggak apa-apa ya, batinnya.
“Wow, mau jadi businesswoman-kah?”
“Mungkin. Sejujurnya dulu aku nggak tahu mau ambil major apa. Ambil engineering--terutama teknik industri--kayaknya susah banget, walaupun selama SMU di Indonesia aku pernah belajar fisika mati-matian. Tapi ternyata di sekolah bisnis malah nggak terpakai.”
Jemari yang bertaut seperti ini, terakhir kali terjadi ketika Sisy menangkup kedua tangannya di depan dada. Menangis di balkon rumahnya daerah Sunset District. Saat itu teman kampus asal Indonesia meminjamkan tabloid gosip asli Indo yang dibawanya dari Jakarta. Dan Sisy membaca headline yang membuat degup jantungnya kacau-balau.
Maifreya Hudyana & Diaz Hanafiah:
Ketika Bintang Film “Senja Sang Cemara” menemukan belahan jiwanya yang sama sekali bukan dari dunia showbiz!
Ada berapa orang bernama Diaz Hanafiah di Indonesia? Itulah kalimat pertama yang muncul di otaknya. Sisy pernah kenal satu orang. Tapi sosok yang dulu dikenalnya tidak seperti ini. Jangankan mabok sampai naik ke atas meja. Ke pesta aja, belum-belum nih cowok udah males duluan!
Tapi mungkin ini Diaz yang lain, sangkal Sisy.


