Paperback synopsis

“Some people say that in friendship we share anything;
share the laugh, pain, stories, and secrets.
Even the darkest one.”

Dari New York City sampai ke Jakarta, dalam masa 5 tahun yang indah walau keduanya berasal dari keluarga dengan latar belakang yang berbeda, Nikratama Zakrie dan Inez Hanafiah selalu bersama. Sebagai sahabat tentunya. Dan hanya dalam masa senang saja mereka berbagi.

Lalu hadir orang lain di dalam kehidupan Inez, serta Alika dan Dilla (keduanya adalah sahabat Inez sendiri, by the way) yang juga mengambil tempat di hati Nikratama--atau Niki.
Dr. Mutia, sang psikiater muda yang Inez kenal, juga ternyata memiliki hubungan khusus dengan Niki. Di lain sisi, kakak Niki memastikan bahwa antara dirinya dan Inez tengah terjadi ‘sesuatu’. Belum lagi Austin Hanafiah yang entah kenapa tidak menyukai Niki, dan Chris Hanafiah yang justru tergila-gila pada cowok ini!

Saat jam pasir itu terus bergulir, dan Inez menoleh...
Ia tertegun lama; sejak kapan sahabatnya ini terlihat begitu menarik, begitu tertutup...
Begitu berbahaya.

Inez pusing setengah mati. Dan Niki semakin tidak terjangkau.
Ketika dihadapkan pada suatu masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya,
beranikah mereka berdua tetap saling menyapa, tanpa memalingkan wajah sama sekali?
Atau Inez memilih untuk mundur setelah mengetahui penyebab tubuh Niki kini penuh luka?


 

Excerpt
“Couture design... fashion history... hmm, tugas knitting ada di mana, ya?”

Inez Callasandra Hanafiah; cantik, latino dengan kulit sun-kissed-nya yang indah, yang saat ini tampak berkilau keemasan tertimpa cahaya mentari pagi yang merayap masuk melalui celah-celah jendela di atas lokernya.

Pagi yang cerah di hari Senin yang dihiasi oleh muka-muka loyo kebanyakan mahasiswa Universitas Richmond Indonesia.

Tapi tidak bagi Inez.

Selama perjalanan ke kampus pagi ini, dimana ia nebeng mobil sepupunya, Diaz Hanafiah, yang tadinya juga kuliah di uni yang sama, Inez terus berceloteh tentang kencan indahnya semalam bersama Dante, sang kekasih.

Kekasih barunya.

Lagi.

Diaz menyetel CD player album kompilasi Linkin Park-Jay Z dan menaikkan volumenya sekeras mungkin. Ia nengok ke arah Inez sambil menyanyikan Encore sekeras-kerasnya dengan gaya dramatis ala rocker yang membuat Inez bergidik aneh, jijik dan tidak suka.

Tanpa banyak basa-basi, Inez ganti track lagu tersebut dengan Great Romantic koleksi Tunde, mantan vokalis Lighthouse Family.

“Ini baru lagu yang nggak anomali buat telinga orang normal,” ucap Inez dengan air muka sangat serius, membuat Diaz tertawa terbahak-bahak.

Diaz menepuk sekali setir Cielo itu. Keras tapi playful. “Gue nggak habis--nggak pernah habis pikir, Nez, kenapa elo nggak suka musik kayak begini. Dibilang keras banget juga tidak. Coba denger Good Charlotte, The Strokes, atau Jet.. WOW! Malah gue bilang nadanya sangat easy-listening. Bagus buat senam kuping.”

“Yeah, bagus buat orang nggak beradab kayak elo--dan cowok Jakarta kebanyakan. Dante suka sekali musik jazz yang lembut dan sophisticated.”

Diaz mendengus mendengar sebuah nama disebut. “Itu karena dia banci kaleng!”

“Oh, jadi mendengarkan musik urbane membuat seorang cowok jadi banci? Gitu?”

“Probably,” Diaz berkata cuek,”If it concerns your flashy boyfriend. Gak tau kenapa, gue ngeliat Nara atau Reno tengil sih OK aja, tapi kalo pacar baru elo itu... hmmph! Better shut my mouth, Nez.”

“Your mouth is in need of excessive education, Yaz.” Inez berujar pelan dalam suara yang sangat mematikan.

Lalu di tengah suasana yang sunyi mencekam ini, tiba-tiba Inez menepuk keras bahu Diaz hingga cowok ini hampir saja banting setir saking kagetnya.

Sekali lagi Inez begitu kepadanya, Diaz mengancam tidak akan nganterin Inez ke kampus pagi ini. Tentu saja ia merasa sangat di atas angin sampai berani berkata demikian, mengingat kepetingannya untuk datang ke kampus URI tidak se-urgent Inez.

Walau Diaz telah lulus dan nampak senang sekali akan gelar barunya sebagai sarjana teknik, ia tetap tidak menyia-nyiakan waktu untuk sekadar santai dengan langsung berencana kerja sebagai pegawai kantoran--disamping profesinya sebagai web designer. Kalau tidak salah, Inez mendengar dari Harsya/Tante Widya bahwa Diaz sudah diterima di salah satu management consulting company di bilangan pusat Jakarta sebagai junior IT support. Dan tujuan Diaz ke kampus kali ini adalah untuk meminta berkas transkrip nilai yang susah sekali didapatnya, sebagai dokumen pendukung untuk kantor barunya itu.

Inez mengibaskan tangannya, lebih kepada usaha mengenyahkan pikiran-pikiran njelimet tentang kuncup karier sepupunya yang baru saja dimulai. Pusing-pusing amat. Lebih baik ia kembali melamunkan Dante, dan tidak usah menghiraukan segala celotehan ngaco Diaz tentang cowok-cowok Jakarta, seakan-akan ia lupa kalau dirinya juga cowok.

Dan seperti sudah dapat Inez tebak, saat itu Diaz malah membalikkan dengan sarkastis semua pujian Inez tentang bagaimana hebatnya Dante memilih restoran yang cantik (dan berkelas) macam Scusa, bagaimana dandy-nya Dante dalam Armani suit, dan bagaimana bangganya Inez karena di malam yang sempurna itu ia bahkan bertemu beberapa teman socialité-nya--yang ternyata kenal Dante juga.

Semua kata-kata manis itu malah dibalas Diaz dengan membandingkan ketika: bagaimana tekornya ia (sampai harus ‘puasa’ Starbucks sebulan penuh!) setelah terakhir kali dining di Cilantro karena seseorang ingin makan masakan Asia untuk kencan terakhir mereka (Inez tahu sekali siapa yang Diaz maksudkan itu).

Sambil mengukir “DYI” di kaca mobil Diaz yang berembun, Inez mencela betapa cowok ini sangatlah perhitungan (alias pelit). Di lain pihak, Diaz menangkis bahwa untuk saat itu saja--satu momen berharga bersama Sisy tersebut--ia sendiri heran mengapa dirinya sama sekali tidak peduli mau menghabiskan uang berapa pun.

Mendengar nada berbicara Diaz yang melunak--dan tersirat kesedihan di dalamnya--syaraf-syaraf tegang Inez juga ikut mengendur.

Inez menghapus inisial “DYI” tersebut dan menggantinya tulisan “Dante Y Inez” yang diukir lebih indah, merasa telah memperjelas ikrar cintanya--dan merasa ingin memamerkan ini di depan Diaz.

Di sisa perjalanan, mereka memilih ngobrolin topik di luar area percintaan, sambil sesekali Inez membantu menyuapkan almond muffin ke mulut Diaz yang sedang konsen nyetir.

Diaz mengatakan dengan ekspresi lucunya,”Kalo ada cowok-cowok fansclub-mu yang ngeliat ini sekarang, hati mereka pasti rontok. Hahaha!”

Inez menimpali dengan gelinya. “Kalo ada cewek-cewekmu yang ngeliat ini pastinya mereka bisa langsung bunuh diri.”

Diaz terdiam sesaat, lalu menatap Inez perlahan melalui bulu matanya. “You know there will never be another girl.” Saking halusnya suara tersebut, Inez sempat merasa tidak yakin Diaz mengucapkannya.

Inez tidak ingin berlarut-larut seperti yang Diaz lakukan. Sepertinya agak radikal, tetapi menurutnya, hidup ini terlalu indah hanya untuk dibagi dengan satu orang saja. Inez yakin sekali akan hal itu. “And you know there’ll always be plenty of guys out there.. to hook up with.”

“Man you’re such a boycrazy,” Diaz mengerang keras lalu tertawa.

“Para cowok, kok, yang tergila-gila ama aku. I simply do nothing,” Inez berkata dengan dagu terangkat, namun senyum dikulum. Tentu saja saat ini ia bercanda maka Diaz dapat mencubit pelan pipinya seakan-akan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

“Kecuali dia.” Diaz berkata penuh arti.

Tatkala Inez masih nampak berpikir, dengan refleks yang bagus (sejak Diaz adalah asisten pelatih Aikido di kompleksnya), cowok ini merebut sisa muffin terakhir di tangan Inez serta memutar setir mobil ke arah kiri pada saat yang bersamaan.

“Oh yeah, kecuali dia.” Inez kini mengerti maksudnya. Sangat mengerti dan setuju sekali.

Tebal: 472 halaman
Ukuran: 15 x 23 cm
ISBN: 979-3750-14-6
Harga: Rp 56,500
Penerbit: Terrant Books