Paperback synopsis
Ada 2 cerita seru dalam buku ini untuk menemani hari-hari indah masa remajamu. Kencana bercerita tentang seorang gadis yang baru masuk SMU dan menemukan suka-duka yang tidak terbayangkan, mulai dari nilai-nilai pelajaran yang anjlok sampai rasa tidak nyamannya memiliki sahabat-sahabat yang tidak hanya keren tapi juga pintar. Lalu ia bertemu dengan mentor sekolah yang aneh namun berhati baik, Senna, serta seorang guru funky yang ingin menjadi matchmaker mereka, Pak Tyo. Kencana semakin bingung, apalagi selama ini ia terbiasa hidup bersama ibu yang benci laki-laki karena ditinggal suaminya.

ada Seuntai Pita Putih , sepasang sahabat dengan karakter bertolak belakang, Karissa dan Flo, naksir sepasang sahabat cowok, Ale dan Yuki. Demi saling menyenangkan hati sahabat masing-masing mereka rela melakukan apapun. Sampai mereka belajar bahwa apapun ternyata tidak selamanya baik, dan justru mampu mencerai-beraikan ikatan cinta mereka yang masih rapuh.

Excerpt
"Saya Nana. Mohon bimbingannya ya, Kak."

OK. Semalaman Nana memikirkan niatnya untuk minta ganti mentor dengan Rodi saja. Tapi… kok rasanya ia jahat sekali ya? Berdasarkan pemilihan mentor secara acak, mentornya adalah Senna Satria, suka atau tidak suka. Rasanya ia tidak mungkin bersikap egois dengan seenaknya minta ganti mentor seperti itu.

Tetapi kenyataannya kini…

"Kencana Alledya Rahmanto kan ?" laki-laki berkacamata di hadapannya ini menatapnya tanpa ekspresi, namun auranya menenangkan.

Khasnya para kutubuku di SMU Nana.

"Nana, Kak," ralat Nana sambil tersenyum manis. Inget, Na… walaupun dia nggak kece dan rada aneh, kamu harus baik-baikin dia. Nih orang kan mentor kamu.

"Tapi di sini ditulisnya Kencana Alledya Rahmanto," tudingnya mengangkat alis.

Pak Tyo.

"Pastinya dia deh." Kening Nana langsung berkerut-kerut seraya memelototi kertas itu, membuat Senna semakin heran melihat polah anak kelas 1 yang menurutnya nggak normal ini.

Pantesan nggak lulus matematika, batin Senna seraya geleng-geleng kepala.

"Nggak usah pake kak-kakan. Panggil gue Senna aja," ucap cowok tinggi ini sambil melempar tumpukan buku yang dipegangnya ke meja di sebelahnya.

"Senna…" tanpa sadar Nana malah melantunkan nama itu lembut, membuat cowok ini sedikit terhenyak.

Hmm, suaranya lembut banget. Senna masih tertegun. Perlahan ia perhatikan figur mungil yang kasak-kusuk sendiri di depannya, mengeluarkan segala macam alat tulis yang amat colorful .

Dan rambut lurus panjang itu… Duh, sejujurnya Senna nggak tahan melihat cewek dengan rambut seindah itu. Bawaannya pengen membelai.

Huh, kayak di iklan aja sih! Ia berusaha mengembalikan segala fokus kesadarannya ke ambang normal lagi, tidak ingin terpengaruh oleh penampilan luar si mungil yang sampai dua bulan ke depan akan menjadi anak didiknya ini.

"Muridnya Pak Tyo ya?" Senna duduk di atas meja, berhadapan langsung dengan Nana.

"Iya. Pak Tyo wali kelasku."

Hari itu di lantai tiga sekolahan mereka sudah sunyi-senyap, padahal arloji Senna baru menunjukkan pukul ½ dua siang. Hanya tinggal mereka berdua di salah satu ruangan kelas itu. Dan Nana yang penakut-takut sendirian, takut sepi, takut gelap, dan takut hantu-secara refleks langsung mendekatkan tubuhnya ke Senna. Apalagi siang ini mendung terus-menerus menyelimuti Jakarta , jadinya ruang-ruang kelas terlihat begitu gelap dan kelam.

"Hmm?" Senna mengangkat alis ketika merasakan sesuatu yang empuk menempel di bagian samping tubuhnya. Dia tahu banget akal-akalan cewek kayak begini. Indirect flirting , kalau kata Mas Ichas. Dan biasanya yang beginian lebih agresif dari cewek yang berani flirting terang-terangan.

Perlahan Senna menyingkir dari meja yang didudukinya, membuat posisi tubuh Nana kontan rubuh, sekaligus menyentil kesadaran cewek ini untuk segera stand by lagi. Ia langsung malu menyadari maksud perbuatannya yang sama sekali tak disengaja tadi.

Selain alat tulis dan kotak pensil, di atas meja Nana juga terdapat sebuah buku… novel Legally Blonde-nya Amanda Brown yang sudah lecek. Senna mengangkat novel yang ternyata bukan versi terjemahan itu. Surprised .

Senna tersenyum penuh kenangan, lembut sekali. Ekspresi kutubuku terganteng yang pernah Nana lihat, dengan mata bulat yang dingin dan tenang, serta rambut tebal yang sedikit acak-acakan, yang tetap mengesankan cowok 'bersih' dan intelek… mengingatkan Nana pada Daniel Radcliffe si pemeran Harry Potter, tokoh film fantasy favoritnya.

"Kamu suka baca ya, Kencana?" tanya Senna, meletakkan kembali buku itu di meja.

"Hanya novel," jawab Nana seadanya.

"Bahasa Inggris?"

"Ngg, lebih suka."

"Hebat juga kamu," ekspresi arogan Senna kembali membeku, sekalipun yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pujian. "Kita mulai langsung aja, Kencana. Pertemuan awal ini sampai jam 6 sore."

"Jam 6?!!! Yang bener aja! Bukannya cuma sampai jam 5?" pekik Nana terkaget-kaget. Nggak, nggak, nggak… sembarangan banget deh seniornya ini. Ntar sore kan Nana mau jalan ama Thoriq, Seby, dan anak-anak kelas 1 lainnya ke Youth Carnival'04 di Taman Ria Senayan. Apalagi hari terakhir ini ada pertunjukan beberapa band keren kayak Maliq and d'Essentials, Too Phat, Marcell dan Ada Band… terus, terus juga ada VJ-VJ MTV yang keren-keren… ada Utt dan Daniel… ada kios-kios makanan yang enak-enak kayak pretzel dan marshmallow … dan…… Nana harus mengorbankan semua itu demi mentoring sialannya ini?! No way!

Seperti sudah dapat menebak reaksi Nana, Senna hanya melengos panjang. Tangannya memegangi keningnya, pusing. "Rabu besok gue nggak bisa, Kencana. Ada kelas pengganti di Uniprep. Gue harus hadir di situ. Nggak bisa nggak. Ini menyangkut masa depan gue!"

"Saya juga harus hadir di Youth Carnival sore ini, Kak! Kakak nggak tau ya, kalau saya nggak lihat sekarang, harus nunggu lagi sampai tahun depan," balas Nana merengek.

"Jangan panggil kak, deh. Senna. Cukup Senna aja."

"Ya udah. Nggak usah manggil Kencana dong. Nana aja. Kencana, Kencana melulu. Aku nggak suka banget nama itu. Freaky! "

Senna tidak jadi membalas melihat gadis di hadapannya yang terlihat benar-benar menjiwai adu mulut ini. Ia nampak begitu membencinya. Sorot matanya berkilat-kilat, menantang. Seperti lupa kalau saat mereka kenalan tadi, ia terlihat takut-takut menghadapi Senna.
Tapi Senna amat menyukai nama itu.

"Elo nggak suka ya? Kencana adalah nama terindah yang pernah gue denger," bantah Senna halus, dan-anehnya-terdengar tulus.

Nana hanya mengerlingkan matanya sekali. Ogah ngobrol dengan mentornya ini lagi. Tapi ia heran, kenapa kakinya tidak juga beranjak dari situ. Perlahan ia malah duduk kembali di kursinya. Senna mengikutinya.

"Gue nggak suka nama itu," di sisa terakhir tenaganya, Nana masih saja ingin membantahnya. "Aneh. Kolot. Kuno. Nggak biasa. Kayaknya temenan ama 'Tut wuri handayani'."

Mendengar itu, Senna tertawa terbahak-bahak. "Lho, bagus kan ? Indonesia sekali."

"Bagusan juga Lena , Jessica, atau Sasha…"

"Anjing pudel adek gue di rumah namanya Sasha."

Nana melotot diejek begitu. Senna masih berusaha mengendalikan tawanya yang tersembunyi di balik jemari tangannya.

"Kamu western-minded banget ya? Aku malahan ingin sekali punya nama yang sepenuhnya Indonesia . Senna… terdengar aneh, karena bokap penggemar Ayrton Senna. Andaikan bokap gue penggemar Mahabharata, mungkin beliau akan kasih gue nama Bhima atau Yudhistira. Pandawa lima ." Ia berhenti sejenak lalu melirik mengejek ke arah Nana,"Nggak kayak kamu. Pengen sok bule."

Orang ini kok malah melantur sih? "You're wasting my time." Nana melempar buku tulisnya ke atas meja.

"We start out now and end on 6. No objection." Senna tidak terpancing dengan kekesalan cewek ini. Ia tidak perlu melempar buku segala untuk membawa kekesalannya ke permukaan menghadapi gadis manja seperti ini. Ia cukup melirik sinis, tajam menusuk, dan cewek ini…

Kencana, sudah bersiap untuk mundur ke belakang karena takut-andaikan tidak ada kursi dan meja yang menahan tubuhnya.

"I hate you." Belum pernah Nana seemosi ini menghadapi cowok manapun.

"Like I care."

Tebal: 328 halaman
Ukuran: 11.5 x 18 cm
ISBN: 979-97806-2-4
Harga: Rp 37,800
Penerbit: Terrant Books