

Paperback synopsis
“Peri hutanku yang melambai bebas, andai dapat kugapai indah hatimu...”
Chris Hanafiah--atau lebih dikenal sebagai Prince Christopher di sekolahnya--tidak pernah benar-benar tertarik dengan cewek sampai ia bertemu siswi pindahan dari Tokyo, Aki.
Aki kembali ke tanah air bukan tanpa alasan, dan ia hanya ingin menjalani hidup normal sebagai remaja. Tapi mungkinkah ‘hidup normal ala remaja’ berarti mengesampingkan fall-in-love stuff, apalagi kalau dirinya malah berhadapan dengan seorang Hanafiah muda yang memiliki moto ‘I get what I see’?
Kini mereka bertemu, dan konflik batin di masing-masing anak muda ini kian bergolak.
Saat Chris jatuh cinta setengah mati kepadanya, Aki malah terus menolaknya... dengan sengaja.
Namun, apapun hidden agenda yang Aki miliki, Chris bertekad akan mengungkapnya...
Excerpt
“Ya, begitu gerakannya. Perfect! Gimana, Kianti, mau kita ulang lagi formasi tadi?”
Via, si kapten tim cheerleaders, rupanya kegirangan banget dapet anggota baru yang termasuk fast-learner. Formasi piramida ciptaannya ini termasuk amat sulit untuk diikuti. Anak buahnya saja butuh waktu hampir 3 minggu demi menguasai permintaan kaptennya. Tetapi, si anak pindahan ini, Kianti Srihadi, dapat melakukannya dengan sempurna hanya dalam tiga hari latihan ketat.
“Wakatta, OK,” Kianti mengangguk.
Tape dinyalakan. Tepat ketika lagu pengiring Flight of the Bumblebee-nya Maksim dimainkan, Kianti, Via, dan tiga orang anggota cheers lainnya maju ke tengah lapangan, memberi tontonan segar di siang hari yang panasnya minta ampun ini.
Para penonton pun, yang terdiri dari anak-anak klub band, softball, basket, teater, sampai otomotif, bersorak heboh.
“Via, Via! Keren banget, loh! I love youuuu…”
“Cewek Jepang, I love you too--“
“Dia bukan cewek Jepang, Bodoh! Dia pindahan dari Jepang. KIANTI, KIANTI… GO, GO, GO!”
Chris tepat muncul di tepi lapangan sebelah kiri, spot yang paling strategis, saat keramaian ini dimulai. Ia surprised banget melihat kegaduhan yang sebagian besar meneriakkan nama Via dan Kianti itu.
Kalau mendengar nama Via yang diteriakin, Chris tidak heran, cewek ini memang figur paling cantik, keren, dan sensasional di SMU-nya. Dan lebih dari itu, Via termasuk teman baiknya sejak awal mereka sama-sama masuk di SMU. Hanya saja kelas 3 kali ini, mereka tidak sekelas lagi.
“Bangga ya, kalo punya cewek anak cheers,” komentar Alde dreamily, sambil menyandarkan dagunya pada pagar pemisah lapangan. “Kayak elo dan Via. So lucky.”
“Gue dan Via hanya bersahabat,” tepis Chris ringan. “Gak terlalu minat pacaran.”
“Yeah rite. Elo lebih enjoy jadi playboy kan? Gak terikat siapapun,” lalu volume suara Alde berubah menjadi lebih pelan tanpa disadarinya sendiri,”Typically Hanafiah.”
Chris tidak terlalu mendengarnya. Kali ini Alde selamat, karena biasanya ia takkan tinggal diam apabila ada yang menyinggung-nyinggung Hanafiah, keluarganya.
Pandangan matanya tersilaukan oleh cahaya mentari yang langsung menghantam wajah cute-nya yang cenderung berstruktur tegas… serta sosok ramping berkuncir kuda yang dengan lincah bergerak, hampir menyamai kecepatan dan kelincahan Via. Kulit cewek ini putih sekali, seperti salju. Cocok dengan rambutnya yang kecoklatan dan nampaknya halus sekali kalau disentuh. Inikah bidadari Jepang yang sejak tadi dicari olehnya dan Alde?
Definitely not for Alde, batin Chris yakin.
“KIANTI, HEBAT BANGET!!!!” suara Alde, Thomas, Dwiya, dan Wido yang berbarengan saat itu terasa luar biasa memekakkan telinga.
Bahkan mereka juga, pikir Chris geli. Semua sobat cowok di sekolahnya, bahkan yang termasuk kategori ‘playboy ganas’ pun ikutan kepincut ama Kianti.
Dari sisi kanannya, Chris juga mendengar beberapa cewek kelas 2 berkomentar antara kagum dan jeaolus, bahwa selain cheers, Kianti juga tergabung dalam klub voli SMU mereka.
Cheers dan voli?
What an odd mixture, pikir Chris lagi, tersenyum. Biasanya anak cheers bukanlah anggota dari klub ekskul lainnya--apalagi klub olahraga yang bikin tangan babak-belur seperti itu.
Tanpa disadari satu lagu selesai, disusul oleh riuh-rendahnya sahutan maupun tepuk tangan, terutama buat si new comer dari Jepang ini yang membuat Via bangga karena dirinya tidak salah rekruit personil untuk timnya.
“Doomo arigatoo, minna! Besok Kianti kasih liat gaya baru lagi ya!” ucap Kianti dengan ceria dan PD-nya, tidak menyangka sambutannya semeriah ini. Ia berlari ke arah Chris. Lebih tepat lagi, ke sebuah meja di depan Chris, tempat ia menaruh tas dan handuk kecilnya.
Kedua mata Chris membelalak. Selama ini ia sering melihat berbagai jenis cewek cantik, di gala dinner yang sering dikunjungi bersama keluarganya, di pub (dimana ia kadang terdampar di sana bersama Reno, Nara dan Inez), di konser, maupun party lainnya. Tapi, peri hutan yang baru saja tiba di hadapannya benar-benar terlihat unik. Tidak artifisial.
Ya, peri hutan, karena gerak-geriknya nampak begitu bebas. Tidak terkungkung oleh apapun dan siapapun. Dan sekelebat keinginan Chris saat ini adalah memilikinya. Walau ia tahu, pada cerita-cerita klasik Eropa, peri hutan adalah makhluk yang bebas, tidak untuk dimiliki. Ia adalah teman siang dan malam, serta sahabat leprechaun yang nyanyiannya akan menyejukkan hati bagi siapapun yang mendengarnya.
…jadi peri hutan ini--maksudnya, Kianti--sepertinya tidak bisa dimiliki hanya oleh dirinya.
Chris menggelengkan kepalanya sekali dengan gestur tenang ditambah seulas senyum confident-nya yang mengembang perlahan.
Hell no. He’s a Hanafiah. He gets what he sees.
At least, itulah yang pernah Reno ajarkan dulu kepadanya tentang bagaimana ngegaet cewek. Karena berdasarkan riset sepanjang masa, nggak ada cewek yang bisa resist kharismanya cowok-cowok Hanafiah.
“Kianti?” panggil Chris sambil menyentuh bahu gadis yang sedang beres-beres ini dari belakang.
“Ya?” Kianti balik badan, mencari arah suara lembut namun terdengar ‘berisi’ itu.
“Hey…” Chris menatap langsung mata itu dengan ramah namun tajam,”mau jadi cewek gue?”


